semanis manggis sesadis jeruk nipis

hello review!

ReviewReviewReviewThe Tracey FragmentsApr 15, '08 7:46 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Independent
Tracey Berkowitz (Ellen Page) adalah anak pertama dari sebuah keluarga yang flat : ibunya dengan kecenderungan gaya hidup jalanan dan ayahnya yang selalu berkata bahwa Tracey dan Sonny—adiknya—merupakan kesalahan akibat hubungan sex mereka yang intens. Namun lebih jauh, Mr dan Mrs Berkowitz bukan orang tua pelaku kekerasan dalam rumah tangga, mereka hanya bukan orang-orang yang patut dicontoh anak-anaknya. Hidup Tracey sudah terlalu flat, dan si kecil Sonny mengira dirinya adalah anjing. Tracey hidup dalam keterasingan dunianya, dan berkelana dalam fantasinya. Film ini memiliki plot, tema, dan karakteristik yang hampir sama seperti dalam novel Catcher in The Rye karangan J D Salinger: seseorang yang merasa marah dan bosan akan kesepiannya, namun akhirnya berdamai dengan kesepian itu sendiri. Sayangnya, dalam film ini terlalu banyak kotak visual, dan hal itu agak mempengaruhi dengan fokus penonton.


ReviewReviewReviewSexandBreakfastMar 27, '08 6:21 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
Mengaharapkan film dengan adegan sex yang dahsyat karena membaca judulnya? Sebelum kecewa, lebih baik buang jauh pikiran kotor Anda. SexandBreakfast berawal dari hubungan romantis yang mendingin diantara James (Macaulay Culkin) dengan Heather (Alexis Dziena) serta Ellis (Kuno Becker) dan Renee (Eliza Dushku). Heather yang terlalu banyak memanipulasi James dan misscomunication diantara Renee dan Ellis akhirnya mempertemukan kedua pasangan ini ke dalam sebuah sesi terapi dimana swinging merupakan jalan keluar yang dianjurkan oleh sang terapis. Terisolasi dalam kamar hotel dengan 2 tempat tidur berukuran Queen, mereka menyadari bahwa swinging sex tidak akan pernah bisa memberikan akhir yang bahagia untuk hubungan mereka. Selamat tinggal budaya postmodern!


ReviewReviewReviewReviewReviewPocong 3Oct 18, '07 12:45 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Horror
"Lu tau nggak, konsep gentayangan tuh apa?"
"Kalopun lu tau sekarang, udah telat! Gue udah keburu matiii.."

Tiba-tiba saja Putri (Francine) dapat melihat orang-orang mati selepas meninggalnya sang ayah, Sudarno bin Darmo. Menurut adik sang ayah, tante Laksmi (Rina Hasyim) hal tersebut dikarenakan keluarga mereka memiliki ilmu hitam yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kehadiran sang Pocong yang ternyata adalah sang ayah ternyata untuk melindungi Putri dari Si Merah.

Film ini digarap tanpa special effect, baik secara visual maupun sound. Kalaupun ada, tidak berarti banyak. Selain durasinya terlalu sebentar, kebanyakan setting diambil di 3 tempat yang sama: disko-kamar Putri-rumah Tante sehingga cenderung membosankan. Begitu pun dengan properti Pocong dan si Merah yang statis, tidak menimbulkan keseraman sama sekali (bahkan saya pun nonton film ini dengan mata terbuka lebar). Kehadiran Bumbelbee, Agus Ringgo, dan Dj anu tampak tidak terlalu 'berfungsi banyak'.

Sebenarnya film ini cukup mendapat SATU BINTANG SAJA. Nilai empat saya kasih karena adanya DARIUS SINATHRYA. Sumpah, tanpa adanya Darius film ini tidak layak tayang (karena kegantengan Darius maksudnya, bukan aktingnya Darius).


ReviewReviewKuntilanak 2Oct 16, '07 1:16 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Horror
Melanjutkan perjalan Samantha (Julie Estelle) sebagai satu-satunya pemegang wangsit yang bisa mendatangkan kuntilanak, keberadaanya terus dicari oleh para keturunan Mangkujiwo. Sam harus berhadapan dengan sisi jahatnya, kenangan masa lalunya bersama Agung (Evan Sanders), rasa bersalah yang terus membayangi, dan tentu saja, keluarga Mangkujiwo yang terus memburunya.

Secara visual, film ini menurut saya sangat 'video klip sekali', sesuai dengan ke-khasan video Rizal Mantovani yang banyak bermain cahaya dan selalu menampilkan kesan 'dramatisir'--yang menurut saya sangat avant garde pada era 90-an tapi sudah terlanjur basi menjelang 2000. Film ini melupakan fakta, bahwa dalam film horor, semestinya si hantu tidak perlu keluar sebanyak itu, karena semakin sering muncul, maka tingkat ke-seram-annya semakin berkurang. Dan lagi-lagi, untuk menambah buruk plot, film ini menambahkan banyak adegan sadis dan darah--semisal kepala yang terpenggal atau usus yang terburai. Menambah buruk, karena penggarapannya setengah-setengah dan terkesan 'diada-adain supaya filmnya tambah bikin tegang'. Dan sudah jelas, Julie Estelle bakal kembali teken kontrak untuk sequel Kuntilanak 3.

Dibandingkan dengan yang pertama, sekuel keduanya ini terkesan 'harus ada' dan 'pasti akan ada yang ketiga'. Mungkin karena film ini diproduseri Rakhee Punjabi.


ReviewReviewReviewReviewReviewRevolusi IranAug 18, '07 9:15 AM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Marjane Satrapi
‘Belajar sejarah seharusnya bisa sangat menyenangkan seperti ini’, itulah kesan pertama dari buku dengan judul asli Persepolis ini. Merupakan buku favorite saya, buku ini menceritakan masa kecil Marjane Satrapi yang hidup dalam keluarga kaya di tengah rezim Shah pada tahun 70-an. Walaupun cerita dalam buku ini dituangkan dalam bentuk komikal (cenderung pada bentuk buku seni grafis), tapi saya rasa siapapun yang membaca pasti akan ikut merasakan kegetiran—yang walaupun dibungkus dengan sedikit humor tapi terasa begitu nyata.

Satrapi mempertanyakan eksistensi agama terhadap kemanusiaan, fundamentalisme, fanatisme, dan terorisme sejak di awal cerita. Ketidak adilan yang merujuk pada tindakan pemberontakan di Iran pada saat itu telah menjadikan Marjane kecil terjun dalam politik dan berperan sebagai martir pada usia sembilan. Cerita tentang beberapa anggota keluarganya yang ditangkap dengan tuduhan pemberontakan terhadap rezim Shah dan dikurung di penjara selama bertahun-tahun, disiksa, dan diantaranya kembali pada keluarganya dalam keadaan termutilasi, telah menumbuhkan sikap patriotik yang salah arah dalam diri Marjane. Marjane berulang kali membangkang kepada guru-gurunya yang umumnya merupakan kaum Islam fanatis. Mereka memaki Marjane karena tidak memakai kerudung sepanjang mata kaki (kerudung yang dipakainya ‘hanya’ sampai perut), menuduhnya pelacur karena memakai jaket jeans (walaupun berkerudung), dan mengeluarkannya dari sekolah ketika Marjane memilih untuk membela kaum pemberontak daripada kaum fundamentalis. Keadaan diperparah ketika Irak menyerang Iran setelam rezim Shah berakhir, menjadikan kebanyakan orang Iran melarikan diri ke luar negeri (umumnya ke Eropa) untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan saya satu pandangan dari kaum progresif di Iran mengenai kehidupan mereka selama decade 70 dan 80-an dimana perang dan kesenjangan yang ada merupakan inti dari kehidupan bernegara mereka saat itu. Sesuatu yang berbau barat dilarang, sehingga bangsa terkungkung dari peradaban luar (ingat Korea Utara saat ini? Mungkin kehidupan seperti ini yang mereka alami sekarang). Wwuuufff! Secara keseluruhan saya memberikan lima bintang untuk buku ini, karena biarpun cerita ini merupakan pandangan politik dari satu sisi saja, namun secara visual, konsep, dan pengemasannya sangat menarik, terutama untuk orang-orang yang mengangggap politik tidak lebih dari kotoran kuku seperti saya (Haha!). Buku ini sangat menyegarkan, memorable, dan unik, dan saya sangat meyarankankan siapapun untuk membacanya.

Untuk yang kemudian mencintai Marjane Satrapi (seperti saya!), coba juga baca Embroidery—karya lainnya—selagi kita menunggu Persepolis 2 edisi bahasa Indonesia terbit.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help