 | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Marjane Satrapi |
‘Belajar sejarah seharusnya bisa sangat menyenangkan seperti ini’, itulah kesan pertama dari buku dengan judul asli Persepolis ini. Merupakan buku favorite saya, buku ini menceritakan masa kecil Marjane Satrapi yang hidup dalam keluarga kaya di tengah rezim Shah pada tahun 70-an. Walaupun cerita dalam buku ini dituangkan dalam bentuk komikal (cenderung pada bentuk buku seni grafis), tapi saya rasa siapapun yang membaca pasti akan ikut merasakan kegetiran—yang walaupun dibungkus dengan sedikit humor tapi terasa begitu nyata.
Satrapi mempertanyakan eksistensi agama terhadap kemanusiaan, fundamentalisme, fanatisme, dan terorisme sejak di awal cerita. Ketidak adilan yang merujuk pada tindakan pemberontakan di Iran pada saat itu telah menjadikan Marjane kecil terjun dalam politik dan berperan sebagai martir pada usia sembilan. Cerita tentang beberapa anggota keluarganya yang ditangkap dengan tuduhan pemberontakan terhadap rezim Shah dan dikurung di penjara selama bertahun-tahun, disiksa, dan diantaranya kembali pada keluarganya dalam keadaan termutilasi, telah menumbuhkan sikap patriotik yang salah arah dalam diri Marjane. Marjane berulang kali membangkang kepada guru-gurunya yang umumnya merupakan kaum Islam fanatis. Mereka memaki Marjane karena tidak memakai kerudung sepanjang mata kaki (kerudung yang dipakainya ‘hanya’ sampai perut), menuduhnya pelacur karena memakai jaket jeans (walaupun berkerudung), dan mengeluarkannya dari sekolah ketika Marjane memilih untuk membela kaum pemberontak daripada kaum fundamentalis. Keadaan diperparah ketika Irak menyerang Iran setelam rezim Shah berakhir, menjadikan kebanyakan orang Iran melarikan diri ke luar negeri (umumnya ke Eropa) untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Secara keseluruhan, buku ini memberikan saya satu pandangan dari kaum progresif di Iran mengenai kehidupan mereka selama decade 70 dan 80-an dimana perang dan kesenjangan yang ada merupakan inti dari kehidupan bernegara mereka saat itu. Sesuatu yang berbau barat dilarang, sehingga bangsa terkungkung dari peradaban luar (ingat Korea Utara saat ini? Mungkin kehidupan seperti ini yang mereka alami sekarang). Wwuuufff! Secara keseluruhan saya memberikan lima bintang untuk buku ini, karena biarpun cerita ini merupakan pandangan politik dari satu sisi saja, namun secara visual, konsep, dan pengemasannya sangat menarik, terutama untuk orang-orang yang mengangggap politik tidak lebih dari kotoran kuku seperti saya (Haha!). Buku ini sangat menyegarkan, memorable, dan unik, dan saya sangat meyarankankan siapapun untuk membacanya.
Untuk yang kemudian mencintai Marjane Satrapi (seperti saya!), coba juga baca Embroidery—karya lainnya—selagi kita menunggu Persepolis 2 edisi bahasa Indonesia terbit.

 | ujow wrote on Aug 19, '07 sebagus itu yak? pinjem dong? beli dimana? |
 | aytth wrote on Aug 20, '07 terbitan resist book emang bagus2 hehehe.. terutama buku barunya eko prasetyo yang astagfirullah:islam jangan dijual.. nah itu dia bagus bgt hahaha sedikit satir jg :P |
 | eh ini yg akhirnya difilmkan menjadi persepolis itu bukan sih?nggi kalo beli buka resist book di bandung di mana ya?gw belinya di sby,,menyedihkan |
Comment deleted at the request of the author.
 | aku da punya dan da baca, komentarnya OK btw. kebetulan ni besok hari rabo, 6 januari 2008. jam.14.00 wib tempatnya di LKIS (lembaga kajian islam dan sosial) di jl.pure 1/1 sorowajan baru jogjakarta. teman-teman yang tertarik datang aja:) |
| |